Google
 

Wednesday, January 30, 2008

Biouodium Atasi Kekurangan Yodium

>

Yodium dalam garam yodisasi mudah tersergap senyawa goitrogenik pada bumbu masakan. Sudahkah Anda yakin dengan garam yang dikonsumsi sehari-hari? Sebagian orang menduga garam tersebut sudah cukup buat memenuhi kebutuhan yodium tubuh. Sebab saat memasak mereka umumnya sudah menuangkan garam - menurut ukuran mereka – dalam jumlah cukup.
Artinya masakan yang siap disantap juga sudah mengandung yodium memadai. Ternyata tak sepenuhnya anggapan tersebut benar. Bahkan bukan tidak mungkin masakan yang kita santap setiap hari masih amat rendah kandungan yodiumnya. Termasuk, untuk masakan yang sudah terasa asin sekali pun garam yang kita gunakan adalah garam yodisasi. Mengapa? Penyebabnya adalah bumbu masak. “Saat garam KIO3 ditambahkan ke dalam masakan, komponen yang terkandung pada bumbu masakan mengikat kandungan yodiumnya,” ujar Komari, peneliti dari Puslitbang Gizi, di Bogor. Berdasarkan hasil penelitian, papar Komari, yodium dalam bentuk KIO3 (Kalium Oksidat) mudah rusak oleh bumbu. Komponen bumbu yang merusak ini, papar Komari, terdapat dalam fasa cair. Sedangkan, yodium dalam KIO3 rentan ditembus oleh cairan. Alhasil, yodium ikut terikat dan mengalir bersamanya. Akibatnya, santapan yang sudah ditaburi garam yodium kandungan yodiumnya bisa menurun drastis saat disantap. Karena kekuatan yodiumnya menipis, tak heran, penanggulangan masalah kekurangan yodium menjadi tidak efektif. “Setidaknya akibat penipisan ini, efek yodium dari garam KIO3 menurun,” ujar Komari yang juga doktor dalam ilmu gizi ini. Itulah sebabnya yodium jenis ini diragukan mampu menurunkan prevalensi kekurangan yodium. Apa solusinya? Komari menandaskan perlu diciptakan jenis yodium yang tak terlarut dalam air. Yodium ini, mesti memiliki “pelindung” hingga tak ikut bersenyawa dalam air. Ibarat minyak, yodium tersebut tidak bakal bergabung bersama air saat saling terlibat. Untuk yodium jenis ini, Komari menamakannya Bioyodium. Bioyodium, jelas Komari, merupakan bentuk yodium yang terikat senyawa biologi yang stabil. “Senyawa-senyawa ini layaknya pelindung bagi komponen yodium,” tegas Komari. Sehingga, ketika masuk ke dalam masakan, bumbu-bumbu ini tidak lagi mampu “menyergap” partikel-partikel yodium, apalagi melarutkannya. Mengapa?.......Penulis: Harian Republika

No comments: